Gunung Ciremei adalah gunung tertinggi di Jawa Barat ( 3.078 Mdpl ), dapat terlihat dengan jelas oleh para penumpang kereta api atau kendaraan umum lainnya sepanjang jalur pantura sekitar Cirebon.
Untuk menuju puncak Ciremei terdapat 3 jalur yang dapat ditempuh yakni jalur Majalengka, jalur Palutungan dan, jalur Linggarjati. Jalur Linggarjati merupakan yang paling terjal dan terberat, namun jalur ini merupakan yang paling sering dilalui pendaki.
JALUR LINGGAJATI
Desa Linggajati 14 km dari kota Kuningan atau 24 km dari kota Cirebon. Dari Jakarta dapat ditempuh menggunakan bus jurusan Kuningan atau kereta api jurusan Cirebon yang disambung dengan bus atau kendaraan umum jurusan Cirebon - Kuningan.
Dari pertigaan Linggajati berjalan kaki sekitar 2,5 km menuju Musium Linggajati yang dulunya adalah sebuah hotel bersejarah yang menjadi saksi bisu tempat Bung Karno dengan pemerintah kolonial Belanda melakukan penandatanganan Perjanjian Ling garjati.
Terdapat pula Taman Linggajati Indah, Taman seluas 11 hektar ini dilengkapi berbagai sarana rekreasi, antara lain kolam renang dan sumber mata air Cibulakan, Silinggonom, Balong Renteng, Rekreasi air dan kolam pancing, Tempat istirahat, Cottage, Villa, Hutan wisata, Bumi perkemahan dll.
Pos penjagaan berjarak lebih kurang 500 m dari Musium Linggajati, kita perlu mendaftarkan diri serta membayar asuransi per orang Rp.3.000,- . Siapkan bekal Anda terutama air karena susah sekali memperoleh air selama di perjalanan.
Para pendaki dapat menggunakan jasa penduduk atau petugas penjaga pos untuk membimbing perjalanan mereka ke puncak. Jalur menuju puncak sangat jelas dan banyak tanda-tanda penunjuk jalan, sehingga pendaki yang baru pertama kalipun tidak akan tersesat.
Selepas dari Pos Pendaftaran dengan melintasi jalanan beraspal pendaki memasuki kawasan hutan Pinus dan persawahan hingga Cibeunar yang berada di ketinggian 750 mdpl. Tempat ini sangat ramai dengan para pendaki yang ingin mengadakan pendakian maupun renaja yang sekedar camping. juga terdapat sumber air yang cukup melimpah, yang tidak akan ditemui lagi sepanjang perjalanan sampai di puncak.
Selepas Cibeunar lintasan akan melewati ladang penduduk dan kawasan hutan pinus hingga memasuki Leuweng Datar di ketinggian 1.285 mdpl.
Leuweng Datar terletak di tengah-tengah hutan tropis. Selepas daerah ini lintasan mulai menanjak dan melewati area yang cukup datar sebagai camp yakni Sigedang dan Kondang Amis (1.350mdpl). Untuk sampai di Kuburan Kuda diperlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan.
Blok Kuburan Kuda berada pada ketinggian 1.580 mdpl, merupakan lapangan datar yang cukup luas dan cukup teduh sebagai tempat perkemahan. Daerah ini dianggap keramat bagi masyarakat setempat. Di dekat jalur terdapt kuburan kuda. Selepas Kuburan Kuda, jalur semakin curam dan kita akan sampai di Pengalap (1.790 mdpl).Dengan sudut lintasan yang mulai membesar kita akan melewati Tanjakan Bin-Bin (1.920 mdpl) dan semakin menanjak lagi ketika melewati Tanjakan Seruni.
Tanjakan Seruni (2.080 mdpl) adalah lintasan yang terberat dan melelahkan dibanding yang lainnya. Bahkan pendaki akan menemui jalan setapak yang terputus dan setengah memanjat, dan memaksanya berpegangan akar pepohonan untuk mencapai pos selanjutnya. Belum lagi bila hujan turun, jalur ini akan menjadi lintasan aliran air hujan seperti air terjun. Begitu juga dengan jalur berikutnya hingga sampai di Tanjakan Bapak Tere (2.200 mdpl) Selepas Tanjakan Bapatere lintasan tetap menanjak hingga sampai di Batu Lingga dengan waktu tempu sekitar 2,5 jam.
Batu Lingga (2.400 mdpl) merupakan pos peristirahatan yang berupa tanah datar dan terdapat sebuah batu berukuran besar dahulunya tempat Wali songo bersolat dan berkotbah.
Pos ini adalah tempat yang keramat, konon pawa Wali sering mengadakan pertemuan di tempat ini menurut kesaksian para pendaki kehadiran para wali ini ditandai dengan gumpalan cahaya yang terbang di tempat ini. Di tempat ini terdapat dua buah batu nisan.
Meninggalkan kawasan Batu Lingga lintasan tetap menanjak. Di tengah perjalanan pendaki akan menemui dua pos peristirahatan berupa tanah datar yakni Sangga Buana Bawah (2.545 mdpl) dan Sangga Buana Atas (2.665 mdpl). Selepas itu pendaki akan memasuki batas vegetasi antara hutan dengan daerah terbuka. Untuk sampai di Pangasinan.
Pangasinan berada pada ketinggian (2.860 mdpl) merupakan pos terakhir. tempatnya lebar sehingga cukup untuk membuka belasan tenda, meskipun lokasinya agak berbukit-bukit. Kabut dan hujan yang sering muncul dipuncak meskipun di musim kemarau menyisakan genangan air di celah-celah bebatuan sehingga bisa dimanfaatkan untuk minum dan memasak. Diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk merangkak melewati bebatuan cadas untuk sampai di puncak. Hujan deras sering muncul di puncak sehingga aliran air terkucur dari atas membasahi para pendaki.
Di puncak pendaki bisa memandang melihat kota Cirebon dan laut Jawa, kapal-kapal besar nampak dikejauhan. Kearah Timur tampak gunung Slamet dengan puncaknya yang tertutup awan.
Puncak gunung Ciremei memiliki kawah yang sangat curam dan sangat indah, pendaki yang nekad sering turun ke kawah untuk membuat tulisan di atas lumpur kawah. Pejiarah sering datang untuk berdoa dipuncak ini. Mereka mendaki dengan berpuasa dan makan bekal nasi bungkus setelah tiba di puncak. Bandingkan pejiarah dengan para pendaki gunung yang setiap saat makan dan minum saja kadang masih juga tidak sampai puncak.
Banyak sekali pendaki yang hanya berkemah di pertengahan pos dan tidak sanggup meneruskan perjalanan ke puncak, karena medan yang berat dan susahnya air, dan kembali turun, untuk itu persiapkan bekal yang berlebih dan bawalah tenda. Karena kemungkinan besar perjalanan akan tertunda, sehingga harus bermalam.
JALUR PALUTUNGAN
Jalur Palutungan tidak seterjal jalur linggajati, namun waktu tempuh yang diperlukan menjadi lebih panjang. Palutungan merupakan sebuah kampung terakhir yang berada di lereng selatan gunung Ciremei dan berada pada ketinggian 1100 mdpl. Palutungan tepatnya berada di wilayah Desa Cisantana, Kec. Cigugur, Kab. Kuningan. Dari terminal bus kota Kuningan naik angkutan pedesaan langsung ke jurusan Desa Palutungan.
Dari Cirebon pendaki dapat menggunakan angkutan umum jurusan Cikijing dan turun di pertigaan Cigugur. Dari pertigaan Cigugur, perjalanan dilanjutkan menuju Cisantana melalui jalanan yang menanjak dan berbatu ditempuh selitar 1 jam, dengan melewati perkebunan penduduk. Dari Cisantana, perjalanan dilanjutkan kembali dengan naik angkutan sayur menuju Palutungan yang memakan waktu 20 menit.
Setelah mengurus perizinan untuk mendaki, perjalanan dapat dimulai melalui kebun penduduk, lalu belok ke kanan memasuki hutan tropis dengan jalur agak landai. Kadangkala harus melalui semak-semak tinggi. Untuk sampai di Cigowong membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan.
Pos I Cigowong terletak di ketinggian 1450 mdpl. Di sini terdapat sungai kecil sehingga pendaki dapat menyiapkan persediaan air sebanyak mungkin karena tidak akan ditemui lagi sumber air hingga puncak. Selepas Cigowong lintasan masih landai memasuki hutan dan melewati Blok Kta yang berada di ketinggian 1.690 mdpl, dan akan sampai di Blok Pangguyangan Badak.
Paguyangan Badak merupakan area yang berada di ketinggian 1.790mdpl. Daerah ini terdapat puing-puing bangunan tua. Untuk sampai di Blok Arban perlu waktu sekitar 30 menit dengan lintasan yang mulai menanjak.
Blok Arban diketinggian (2.030 mdpl) merupakan pos III dengan area yang cukup datar dan teduh. Lintasan mulai menanjak dan sekitar 2,5 jam akan sampai di Tanjakan Asoy (2.108mdpl) yang merupakan pos IV. Tempat ini berupa tanah datar berukuran yg cukup luas. Selepas dari sini lintasan semakin menanjak dalam waktu 1 jam akan sampai di Blok Pesanggrahan (2.450mdpl) .
Selepas dari pos V (pasangrahan) pendaki mulai memasuki kawasan vegetasi yang ditumbuhi cantigi dan edelweiss sampai di Bolk SangHyang Ropoh (2.590 mdpl). Lintasan ini sangat licin jika hujan turun. SangHyang Ropoh (Pos VI) terletak di daerah yang datar dan terbuka.
Selepas pos VI lintasan masih curam dan licin, dengan tanah berwama kuning mengandung belerang. Selanjutnya kita akan sampai di pertigaan yang menuju ke jalur Apuy dan ke Kawah Gua Walet. Pada sisi kanan lintasan terdapat Kawah Gua Walet (2.925 mdpl) yang sering digunakan untuk bermalam dan berlindung dari cuaca buruk. Di sebelah kiri, lintasan akan menyatu dengan jalur Apuy (Majalengka).
Untuk sampai di puncak Ciremai (Puncak Sunan Cirebon) diperlukan waktu sekitar 1,5 jam. Sesampainya di puncak pendaki dapat menikmati indahnya pemandangan dua kawah kembar yang berdampingan.
Untuk mengitari kawah ini diperlukan waktu kira-kira 3 jam. Selain itu, pendaki juga dapat menyaksikan ke arah barat indahnya kota Majalengka, ke arah utara panorama kota Cirebon dan Laut Jawa, serta dari kejauhan ke arah timur tampak Gunung Slamet yang tertutup awan. Di pagi hari pada bulan-bulan tertentu sunrise akan muncul tepat dari puncak gunung Slamet.
Selasa, 13 April 2010
PERLENGKAPAN DAN TEKNIK PENELUSURAN GOA VERTIKAL
A. PENELUSURAN GUA VERTIKAL
Peralatan pribadi :
Sit harnest dan chest harnest
Footloop
Cowstail
Ascender ( jummar)
Descender (capstan, rack)
Croll
Maillon rapide
Carabiner
Helm dilengkapi lampu
Peralatan team
Tali (statik rope) mempunyai karakteristik : kuat, memilikidaya tahan terhadap gesekan, daya lentur kecil dan dapat menyerap kejut.
Webbing
Rock anchor
Hanger
Perlengkapan lainnya : tackle bag, kamera, kompas, altimeter, stick light.
B. PENELUSURAN GUA HORISONTAL
Peralatan pribadi :
helm lengkap dengan lampu
coverall/werkpak
sepatu
Peralatan team :
Tali
Webbing
Kamera
Perahu karet
Kompas
Stick light.
TEKNIK PENELUSURAN GUA VERTIKAL (TPGV) DAN SINGLE ROPE TEKNIK
Salah satu teknik untuk penelusuran gua vertikal adalah menuruni tali dengan teknik SRT (single rope teknik). Teknik ini menggantikan penggunaan tangga gantung yang berat dan susah dalam riggingnya.
Macam-macam SRT :
Rope Walking System (Jummaring).Ciri utamanya adalah kedua kaki diikatkan pada ascender yang terpisah, sehinnga kaki bebas bergerak seperti orang menaikki tangga.
Sit-stand system
Ciri pokok ini adalah menggunakan ascender dan descender dengan memindahkan berat tubuh secara bergantian antara kaki dan pinggul sehingga system ini tidak cepat lelah dan mudah beristirahat. Teknik yang sering digunakan adalah Frog Rig System.
RIGGING
Adalah suatu teknik untuk pemasangan lintasan tali untuk goa vertikal .
a. Syarat-syarat rigging
Ada beberapa syarat rigging yang baik adalah :
Aman dilewati oileh semua personel team.
Tidak merusak peralatan
Dapat dilewati oleh semua anggota team lainnya.
b. Peralatan rigging
Peralatan rigging sangat banyak tergantung pada lintasan vertikalnya yaitu:
Tali,Jenis tali :
Hawsterlait. Berbentuk lilitan dari bahan nylon.
Kernmantel
Terdiri dari dua bagian yaitu kern (bagian dalam/inti) dan mantel (bagian luar/ pembungkus).
Kekuatan tali = A2 x 22 kg dan A = diameter tali (mm)
Ladder
Ladder atau tangga tali yang terbuat dari kawat baja. Ladder ini sangat efektif untuk pitch pendek dan bentuk lintasan overhang.
Webbing
Berguna untuk pemasangan tambatan alam, deviasi.
Padding
Berfungsi untuk melindungi tali dari gesekan.
Carabiner
Fungsinya untuk pengait. Berdasarkan pengamanannya dibagi menjadi dua jenis yaitu :
1. Carabiner screw gate
Jenis ini mempunyai pengunci skrew.
2. Carabiner non screw gate
Jenis ini tidak mempunyai pengunci.
Pengaman sisip
Merupakan peralatan tambahan untuk membuat tambatan, penggunaannya tergantung pada bentuk bawaan batuan. Contohnya chock stopper, hexentrik, friend.
Paku pitton
Berbentuk seperti paku yang ditanamkan pada celah vertikal maupun horisontal.
Bolts (bor tebing)
Digunakan apabila tidak ditemui natural anchor.
Hanger
Merupakan pasangan dari bolts tempat penambatan tali.
Hammer
Untuk mengetes batuan maupun untuk mengebor tebing.
c. Anchor
Anchor merupakan point atau obyek yang digunakan sebagai tambatan. Yang diperhitungkan dalam pemilihan tambatan adalah jemis tambatan, posisi tambatan dan kekuatan tambatan.
Berdasarkan jenisnya dibagi menjadi dua yaitu:
Natural anchor merupakan anchor alam seperti pohon, libang tembus, rekahan,chock stone, stalaktit atau stalakmit.
Anchor buatan.
Apabila tidak ditemukan natural anchor maka satu-satunya jalan adalah pembuatan anchor buatan dengan bor tebing.
Berdasarkan posisi dan urutan mendapatkan beban dapat dibedakan menjadi :
Main anchor atau anchor utama yang secara langsung mendapatkan beban.
Back up anchor
Berfungsi sebagai anchor cadangan apabila main anchor jebol.
d. Fall factor
Pemasangan antara main anchor dengan back up harus memperhitungkan fall factornya yaitu beban hentakan yang diterima back up saat main anchor terlepas atai jebol.
FF = JARAK JATUH / PANJANG TALI
e. Lintasan
Pembuatan lintasan vertikal yang baik adalah harus memperhatikan syarat rigging sehingga diogunakan beberapa variasi lintasan. Variasi lintasan ini dibuat untuk keselamatan alat dan penelusur juga karena bentuk medannya.
Macamnya adalah :
Intermediate.Bentuknya adalah menghilangkan friksi tali pada dinding goa dengan cara memasang tambatan pada titik gesekan.
Deviasi
Dibuat untuk menghilangkan friksi juga dengan sara menarik tali/lintasan kearah luar dari titik gesekan dengan tambahan anchor.
Lintasan traverse
Lintasan Tyrolean
Ada dua yaitu horisontal tyrolean dan sloping tyrolean.
lintasan ladder
f. Simpul
Simpul yang baik untuk penelusuran goa vertikal dubagi menjadi lima kriteria yaitu :
mudah dibuat
mudah dilihat kebenaran lilitannya
aman
mudah dilepas
mengurangi kekuatan tali seminimal mungkin.
Peralatan pribadi :
Sit harnest dan chest harnest
Footloop
Cowstail
Ascender ( jummar)
Descender (capstan, rack)
Croll
Maillon rapide
Carabiner
Helm dilengkapi lampu
Peralatan team
Tali (statik rope) mempunyai karakteristik : kuat, memilikidaya tahan terhadap gesekan, daya lentur kecil dan dapat menyerap kejut.
Webbing
Rock anchor
Hanger
Perlengkapan lainnya : tackle bag, kamera, kompas, altimeter, stick light.
B. PENELUSURAN GUA HORISONTAL
Peralatan pribadi :
helm lengkap dengan lampu
coverall/werkpak
sepatu
Peralatan team :
Tali
Webbing
Kamera
Perahu karet
Kompas
Stick light.
TEKNIK PENELUSURAN GUA VERTIKAL (TPGV) DAN SINGLE ROPE TEKNIK
Salah satu teknik untuk penelusuran gua vertikal adalah menuruni tali dengan teknik SRT (single rope teknik). Teknik ini menggantikan penggunaan tangga gantung yang berat dan susah dalam riggingnya.
Macam-macam SRT :
Rope Walking System (Jummaring).Ciri utamanya adalah kedua kaki diikatkan pada ascender yang terpisah, sehinnga kaki bebas bergerak seperti orang menaikki tangga.
Sit-stand system
Ciri pokok ini adalah menggunakan ascender dan descender dengan memindahkan berat tubuh secara bergantian antara kaki dan pinggul sehingga system ini tidak cepat lelah dan mudah beristirahat. Teknik yang sering digunakan adalah Frog Rig System.
RIGGING
Adalah suatu teknik untuk pemasangan lintasan tali untuk goa vertikal .
a. Syarat-syarat rigging
Ada beberapa syarat rigging yang baik adalah :
Aman dilewati oileh semua personel team.
Tidak merusak peralatan
Dapat dilewati oleh semua anggota team lainnya.
b. Peralatan rigging
Peralatan rigging sangat banyak tergantung pada lintasan vertikalnya yaitu:
Tali,Jenis tali :
Hawsterlait. Berbentuk lilitan dari bahan nylon.
Kernmantel
Terdiri dari dua bagian yaitu kern (bagian dalam/inti) dan mantel (bagian luar/ pembungkus).
Kekuatan tali = A2 x 22 kg dan A = diameter tali (mm)
Ladder
Ladder atau tangga tali yang terbuat dari kawat baja. Ladder ini sangat efektif untuk pitch pendek dan bentuk lintasan overhang.
Webbing
Berguna untuk pemasangan tambatan alam, deviasi.
Padding
Berfungsi untuk melindungi tali dari gesekan.
Carabiner
Fungsinya untuk pengait. Berdasarkan pengamanannya dibagi menjadi dua jenis yaitu :
1. Carabiner screw gate
Jenis ini mempunyai pengunci skrew.
2. Carabiner non screw gate
Jenis ini tidak mempunyai pengunci.
Pengaman sisip
Merupakan peralatan tambahan untuk membuat tambatan, penggunaannya tergantung pada bentuk bawaan batuan. Contohnya chock stopper, hexentrik, friend.
Paku pitton
Berbentuk seperti paku yang ditanamkan pada celah vertikal maupun horisontal.
Bolts (bor tebing)
Digunakan apabila tidak ditemui natural anchor.
Hanger
Merupakan pasangan dari bolts tempat penambatan tali.
Hammer
Untuk mengetes batuan maupun untuk mengebor tebing.
c. Anchor
Anchor merupakan point atau obyek yang digunakan sebagai tambatan. Yang diperhitungkan dalam pemilihan tambatan adalah jemis tambatan, posisi tambatan dan kekuatan tambatan.
Berdasarkan jenisnya dibagi menjadi dua yaitu:
Natural anchor merupakan anchor alam seperti pohon, libang tembus, rekahan,chock stone, stalaktit atau stalakmit.
Anchor buatan.
Apabila tidak ditemukan natural anchor maka satu-satunya jalan adalah pembuatan anchor buatan dengan bor tebing.
Berdasarkan posisi dan urutan mendapatkan beban dapat dibedakan menjadi :
Main anchor atau anchor utama yang secara langsung mendapatkan beban.
Back up anchor
Berfungsi sebagai anchor cadangan apabila main anchor jebol.
d. Fall factor
Pemasangan antara main anchor dengan back up harus memperhitungkan fall factornya yaitu beban hentakan yang diterima back up saat main anchor terlepas atai jebol.
FF = JARAK JATUH / PANJANG TALI
e. Lintasan
Pembuatan lintasan vertikal yang baik adalah harus memperhatikan syarat rigging sehingga diogunakan beberapa variasi lintasan. Variasi lintasan ini dibuat untuk keselamatan alat dan penelusur juga karena bentuk medannya.
Macamnya adalah :
Intermediate.Bentuknya adalah menghilangkan friksi tali pada dinding goa dengan cara memasang tambatan pada titik gesekan.
Deviasi
Dibuat untuk menghilangkan friksi juga dengan sara menarik tali/lintasan kearah luar dari titik gesekan dengan tambahan anchor.
Lintasan traverse
Lintasan Tyrolean
Ada dua yaitu horisontal tyrolean dan sloping tyrolean.
lintasan ladder
f. Simpul
Simpul yang baik untuk penelusuran goa vertikal dubagi menjadi lima kriteria yaitu :
mudah dibuat
mudah dilihat kebenaran lilitannya
aman
mudah dilepas
mengurangi kekuatan tali seminimal mungkin.
Teknik Dasar Pendakian / Rock Climbing
Teknik Mendaki
1. Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan. Para pendaki pemula biasanya mempunytai kecenderungan untuk mempercayakan sebagian berat badannya pada pegangan tangan, dan menempatkan badanya rapat ke tebing. Ini adalah kebiasaan yang salah. Tangan manusia tidak bias digunakan untuk mempertahankan berat badan dibandingkan kaki, sehingga beban yang diberikan pada tangan akan cepat melelahkan untuk mempertahankan keseimbangan badan. Kecenderungan merapatkan berat badan ke tebing dapat mengakibatkan timbulnya momen gaya pada tumpuan kaki. Hal ini memberikan peluang untuk tergelincir.Konsentrasi berat di atas bidang yang sempit (tumpuan kaki) akan memberikan gaya gesekan dan kestabilan yang lebih baik.
2. Friction / Slab Climbing
Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Ini dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, kekasaran permukaan cukup untuk menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesekan terbesar diperoleh dengan membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik dan pembebanan maksimal diatas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik.
3. Fissure Climbing
Teknik ini memanfaatkan celah yang dipergunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak. Dengan cara demikian, dan beberapa pengembangan, dikenal teknik-teknik berikut.
* Jamming, teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu besar. Jari-jari tangan, kaki, atau tangan dapat dimasukkan/diselipkan pada celah sehingga seolah-olah menyerupai pasak.
* Chimneying, teknik memanjat celah vertical yang cukup lebar (chomney). Badan masuk diantara celah, dan punggung di salah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke belakang. Kedua tangan diletakkan menempel pula. Kedua tangan membantu mendororng keatas bersamaan dengan kedua kaki yang mendorong dan menahan berat badan.
* Bridging, teknik memanjat pada celah vertical yang cukup besar (gullies). Caranya dengan menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah tersebut. Posisi badan mengangkang, kaki sebagai tumpuan dibantu oleh tangan yang juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan.
* Lay Back, teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dan kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung miring sedemikian rupa untuk menenpatkan kedua kaki pada tepi celah yang berlawanan. Tangan menarik kebelakang dan kaki mendorong kedepan dan kemudian bergerak naik ke atas silih berganti.
Pembagian Pendakian Berdasarkan Pemakaian Alat
Free Climbing
Sesuai dengan namanya, pada free climbing alat pengaman yang paling baik adalah diri sendiri. Namun keselamatan diri dapat ditingkatkan dengan adanya keterampilan yang diperoleh dari latihan yang baik dan mengikuti prosedur yang benar. Pada free climbing, peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman bila jatuh. Dalam pelaksanaanya ia bergerak sambil memasang, jadi walaupun tanpa alat-alat tersebut ia masih mampu bergerak atau melanjutkan pendakian. Dalam pendakian tipe ini seorang pendaki diamankan oleh belayer.
Free Soloing
Merupakan bagian dari free climbing, tetapi sipendaki benar-benar melakukan dengan segala resiko yang siap dihadapinya sendiri.Dalam pergerakannya ia tidak memerlukan peralatan pengaman. Untuk melakukan free soloing climbing, seorang pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau pergerakan pada rute yang dilalui. Bahkan kadang-kadang ia harus menghapalkan dahulu segala gerakan, baik itu tumpuan ataupun pegangan, sehingga biasanya orang akan melakukan free soloing climbing bila ia sudah pernah mendaki pada lintasan yang sama. Resiko yang dihadapi pendaki tipe ini sangat fatal sekali, sehingga hanya orang yang mampu dan benar-benar professional yang akan melakukannya.
Atrificial Climbing
Pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, seperti paku tebing, bor, stirrup, dll. Peralatan tersebut harus digunakan karena dalam pendakian sering sekali dihadapi medan yang kurang atau tidak sama sekali memberikan tumpuan atau peluang gerak yang memadai
1. Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan. Para pendaki pemula biasanya mempunytai kecenderungan untuk mempercayakan sebagian berat badannya pada pegangan tangan, dan menempatkan badanya rapat ke tebing. Ini adalah kebiasaan yang salah. Tangan manusia tidak bias digunakan untuk mempertahankan berat badan dibandingkan kaki, sehingga beban yang diberikan pada tangan akan cepat melelahkan untuk mempertahankan keseimbangan badan. Kecenderungan merapatkan berat badan ke tebing dapat mengakibatkan timbulnya momen gaya pada tumpuan kaki. Hal ini memberikan peluang untuk tergelincir.Konsentrasi berat di atas bidang yang sempit (tumpuan kaki) akan memberikan gaya gesekan dan kestabilan yang lebih baik.
2. Friction / Slab Climbing
Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Ini dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, kekasaran permukaan cukup untuk menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesekan terbesar diperoleh dengan membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik dan pembebanan maksimal diatas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik.
3. Fissure Climbing
Teknik ini memanfaatkan celah yang dipergunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak. Dengan cara demikian, dan beberapa pengembangan, dikenal teknik-teknik berikut.
* Jamming, teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu besar. Jari-jari tangan, kaki, atau tangan dapat dimasukkan/diselipkan pada celah sehingga seolah-olah menyerupai pasak.
* Chimneying, teknik memanjat celah vertical yang cukup lebar (chomney). Badan masuk diantara celah, dan punggung di salah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke belakang. Kedua tangan diletakkan menempel pula. Kedua tangan membantu mendororng keatas bersamaan dengan kedua kaki yang mendorong dan menahan berat badan.
* Bridging, teknik memanjat pada celah vertical yang cukup besar (gullies). Caranya dengan menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah tersebut. Posisi badan mengangkang, kaki sebagai tumpuan dibantu oleh tangan yang juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan.
* Lay Back, teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dan kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung miring sedemikian rupa untuk menenpatkan kedua kaki pada tepi celah yang berlawanan. Tangan menarik kebelakang dan kaki mendorong kedepan dan kemudian bergerak naik ke atas silih berganti.
Pembagian Pendakian Berdasarkan Pemakaian Alat
Free Climbing
Sesuai dengan namanya, pada free climbing alat pengaman yang paling baik adalah diri sendiri. Namun keselamatan diri dapat ditingkatkan dengan adanya keterampilan yang diperoleh dari latihan yang baik dan mengikuti prosedur yang benar. Pada free climbing, peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman bila jatuh. Dalam pelaksanaanya ia bergerak sambil memasang, jadi walaupun tanpa alat-alat tersebut ia masih mampu bergerak atau melanjutkan pendakian. Dalam pendakian tipe ini seorang pendaki diamankan oleh belayer.
Free Soloing
Merupakan bagian dari free climbing, tetapi sipendaki benar-benar melakukan dengan segala resiko yang siap dihadapinya sendiri.Dalam pergerakannya ia tidak memerlukan peralatan pengaman. Untuk melakukan free soloing climbing, seorang pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau pergerakan pada rute yang dilalui. Bahkan kadang-kadang ia harus menghapalkan dahulu segala gerakan, baik itu tumpuan ataupun pegangan, sehingga biasanya orang akan melakukan free soloing climbing bila ia sudah pernah mendaki pada lintasan yang sama. Resiko yang dihadapi pendaki tipe ini sangat fatal sekali, sehingga hanya orang yang mampu dan benar-benar professional yang akan melakukannya.
Atrificial Climbing
Pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, seperti paku tebing, bor, stirrup, dll. Peralatan tersebut harus digunakan karena dalam pendakian sering sekali dihadapi medan yang kurang atau tidak sama sekali memberikan tumpuan atau peluang gerak yang memadai
Langganan:
Postingan (Atom)
